Selasa, 10 Oktober 2017

Tugas 1.2 Prinsip-Prinsip Etika

Profesi akuntansi adalah kesediaannya menerima tanggung jawab untuk bertindak bagi kepentingan publik. Oleh sebab itu, tanggung jawab Akuntan Profesional tidak terbatas hanya pada kepentingan klien atau pemberi kerja. Akuntan professional harus memperhatikan dan mematuhi ketentuan Kode Etik ini dalam bertindak bagi kepentingan publik.

Prinsip Etika Profesi Akuntansi Menurut IAI
IAI dalam Exposure Draft, Kode Etik Akuntan Profesional, menyebutkan prinsip dasar etika profesi akuntansi. Berikut uraiannya.

1.     Prinsip Integritas
Prinsip integritas ini mewajibkan setiap akuntan (professional) bersikap lugas dan jujur dalam semua hubungan professional dan hubungan bisnisnya. Artinya integritas adalah berterus terang dan selalu mengatakan yang sebenarnya.
Akuntan professional diharuskan tidak boleh terkait dengan pernyataan resmi, laporan, komunikasi atau informasi lain ketika akuntan meyakini bahwa informasi tersebut terdapat:
1.     Kesalahan material atau pernyataan yang menyesatkan.
2.    Informasi atau pernyataan atau yang dilengkapi secara sembarangan.
3.   Penghilangan atau pengaburan informasi yang seharusnya diungkapkan sehingga akan menyesatkan.
Saat meyadari bahwa dirinya dikaitkan dengan informasi semacam tersebut, maka akuntan professional mengambil keputusan dan langkah-langkah yang diperlukan agar tidak dikaitkan dengan informasi tersebut.

2.  Prinsip Objektivitas
Prinsip objektivitas mewajibkan seluruh anggota bersikap adil, jujur secara intelektual, tidak memihak, tidak berprasangka atau bias, bebas dari benturan kepentingan atau pengaruh yang tidak sepantasnya dari pihak lain.
Setiap anggota diharuskan menunjukkan objektivitasnya dalam berbagai situasi dalam menjalankan kewajibannya dan menghidari yang dapat mengurangi pertimbangan professional atau bisnisnya.
Akuntan professional mungkin dihadapkan pada situasi yang bisa saja mengganggu objektivitasnya, namun semua anggota tidak akan memberikan layanan professional jika suatu keadaan atau hubungan menyebabkan terjadi bias atau dapat memberi pengaruh yang berlebihan pada pertimbangan profesionalnya.
3.  Kompetensi Dan Kehati-Hatian Profesional
Prinsip kompetensi dan kehati hatian professional mengharuskan setiap anggotanya Akuntan Profesional untuk :
         1.      Memelihara pengetahuan dan keahlian professional yang dibutuhkan untuk menjamin pemberi kerja (klien menerima layanan yang professional dan kompeten.
         2.           Bertindak tekun dan cermat sesuai teknis dan professional yang berlaku ketika memberikan jasa professional.
“ Jasa profesional yang berkompeten mensyaratkan pertimbangan yang cermat dalam menerapkan pengetahuan serta keahlian profesional untuk jasa yang diberikan.”
Kompetensi dapat dibagi menjadi dua tahap yaitu:
1.     Pencapaian kompetensi professional
2.    Pemeliharaan kompetensi professional
Pemeliharaan kompetensi profesional memerlukan kesadaran yang berkelanjutan dan pemahaman atas perkembangan teknis, professional serta bisnis yang relevan. Program pengembangan yang berkelanjutan membuat akuntan dapat mengembangkan dan memelihara kemampuannya untuk bertindak secara kompeten dalam lingkungan professional.
Ketekunan yang dimaksud meliputi tanggung jawab untuk bertindak sesuai penugasan, berhati-hati, lengkap dan tepat waktu.
Seorang akuntan professional mengambil langkah-langkah yang rasional untuk menjamin bahwa anggota yang bekerja dibawah kewenangannya telah mendapatkan pelatihan serta pengawasan yang memadai.

4.  Kerahasiaan
Prinsip kerahasiaan mengharuskan setiap akuntan untuk tidak melakukan hal berikut ini.
1. Mengungkapkan informasi rahasia yang diperolehnya dari hubungan professional dan hubungan bisnis pada pihak diluar kantor akuntan atau organisasi tempat akuntan bekerja tanpa diberikan kewenangan yang memadai dan spesifik, terkecuali jika mempunyai hak dan kewajiban secara hukum atau professional untuk mengungkapkan kerahasiaan tersebut.
2. Menggunakan informasi rahasia untuk keuntungan pribadi atau pihak ketiga. Informasi yang diperoleh baik melalui hubungan professional maupun hubungan bisnis.
Kode etika profesi akuntansi mewajibkan seluruh akuntan untuk melakukan hal-hal yang berkaitan dengan prinsip kerahasiaan berikut ini
1.   Akuntan professional menjaga kerahasian informasi termasuk dalam lingkungan sosialnya, sekaligus waspada terhadap kemungkinan pengungkapan yang tidak disengaja kepada keluarga atau rekan bisnis terdekat.
2. Menjaga kerahasiaan informasi yang diberikan / diungkapkan oleh pemberi kerja (klien).
3. Menjaga kerahasiaan informasi di dalam kantor akuntan atau organisasi di tempatnya bekerja.
4. Akuntan professional harus mengambil langkah yang dibutuhkan untuk memastikan, bahwa staf dibawah pengawasannya dan orang yang memberi saran dan bantuan professional serta menghormati kewajiban akuntan professional untuk menjaga kerahasiaan informasi.
5. Kewajiban untuk mematuhi semua prinsip kerahasiaan terus dipertahankan, bahkan saat setelah berakhirnya hubungan antara klien dan akuntan. Ketika akuntan mendapat klien baru, berhak menggunakan pengalaman dari sebelumnya. Namun demikian akuntan tetap tidak diperbolehkan mengungkapkan setiap informasi rahasia yang diperoleh dari hubungan professional atau bisnis sebelumnya.

5.  Perilaku Profesional
Prinsip perilaku professional mewajibkan setiap akuntan professional mematuhi ketentuan hukum serta peraturan yang berlaku dan menghindari setiap perilaku yang dapat mengurangi kepercayaan pada profesi.
Dalam upaya memasarkan dan mempromosikan diri dan pekerjaan, akuntan professional sangat tidak dianjurkan mencemarkan nama baik profesi. Akuntan wajib mempunyai sikap jujur dan dapat dipercaya, serta tidak melakukan hal-hal diantaranya:
1.    Mengakui dengan berlebihan mengenai jasa yang ditawarkan, pengelaman yang diperoleh, kualifikasi yang dimiliki.
2.   Membuat referensi yang menjatuhkan atau membuat perbandingan tanpa bukti kepada pekerjaan pihak lain.
Sumber lain, Mulyadi menambahkan
6.  Tanggung Jawab profesi
Seorang Akuntan dalam melaksanakan tanggungjawabnya sebagai professional, harus senantiasa menggunakan pertimbangan moral dan professional terhadap semua kegiatan yang dilaksanakannya. Anggota memiliki tanggungjawab kepada pemakai jasa professional merekq dan tanggungjawab untuk bekerja sama dengan sesama anggota demi mengembangkan profesi akuntansi serta memelihara kepercayaan masyarakat. Semua usaha tersebut diperlukan untuk memelihara dan meningkatkan tradisi profesi.
7.  Standar Teknis
Setiap anggota akuntan professional dalam melaksanakan jasa profesionalnya harus sesuai dengan standar ptofesional yang relevan. Keahlian anggota akuntan professional berkewajiban untuk melaksakan tugas yang diterima dari pemberi kerja dengan prinsip integritas dan objektivitas.
Standar yang harus ditaati setiap anggota adalah standar yang dikeluarkan oleh IAI (Ikatan Akuntansi Indonesia), International Federation Of Accountants, badan pengatur dan undang-undang yang relevan dengan profesi akuntan.
8.  Kepentingan Publik
Anggota akuntan professional berkewajiban untuk bertindak dalam rangka pelayanan kepada public, menghormati kepercayaan publik serta menunjukkan sikap profesionalisme.
Salah satu ciri dari profesi adalah penerimaan tanggung jawab kepada publik. Profesi akuntan juga memegang peranan penting di masyarakat. Arti public dari profesi akuntan meliputi klien, pemerintah, pemberi kredit, pegawai. Investor, dunia bisnis dan keuangan dan pihak-pihak yang bergantung kepada integritas dan obyektivitas akuntan dalam memlihara berjalannya fungsi bisnis dengan tertib.
Tugas terpenting setiap anggota adalah menjaga dan mempelihara kepercayaan publik terhadap profesi akuntan.
Referensi


Minggu, 08 Oktober 2017

Tugas 1.1 Etika

Pengertian Etika Secara Umum


Dalam pergaulan hidup bermasyarakat, bernegara hingga pergaulan hidup tingkat internasional di perlukan suatu system yang mengatur bagaimana seharusnya manusia bergaul. Sistem pengaturan pergaulan tersebut menjadi saling menghormati dan dikenal dengan sebutan sopan santun, tata krama, protokoler dan lain-lain. Maksud pedoman pergaulan tidak lain untuk menjaga kepentingan masing-masing yang terlibat agar mereka senang, tenang, tentram, terlindung tanpa merugikan kepentingannya serta terjamin agar perbuatannya yang tengah dijalankan sesuai dengan adat kebiasaan yang berlaku dan tidak bertentangan dengan hak-hak asasi umumnya. Hal itulah yang mendasari tumbuh kembangnya etika di masyarakat kita.
Menurut para ahli maka etika tidak lain adalah aturan prilaku, adat kebiasaan manusia dalam pergaulan antara sesamanya dan menegaskan mana yang benar dan mana yang buruk. Perkataan etika atau lazim juga disebut etik, berasal dari kata Yunani ETHOS yang berarti norma-norma, nilai-nilai, kaidah-kaidah dan ukuran-ukuran bagi tingkah laku manusia yang baik, seperti yang dirumuskan oleh beberapa ahli berikut ini :
 1.  Drs. O.P. SIMORANGKIR : etika atau etik sebagai pandangan manusia dalam berprilaku menurut ukuran dan nilai yang baik.
2.  Drs. Sidi Gajalba dalam sistematika filsafat : etika adalah teori tentang tingkah laku perbuatan manusia dipandang dari segi baik dan buruk, sejauh yang dapat ditentukan oleh akal.
  3.  Drs. H. Burhanudin Salam : etika adalah cabang filsafat yang berbicara mengenai nilai dan norma moral yang menentukan prilaku manusia dalam hidupnya.
Etika dalam perkembangannya sangat mempengaruhi kehidupan manusia. Etika memberi manusia orientasi bagaimana ia menjalani hidupnya melalui rangkaian tindakan sehari-hari. Itu berarti etika membantu manusia untuk mengambil sikap dan bertindak secara tepat dalam menjalani hidup ini. Etika pada akhirnya membantu kita untuk mengambil keputusan tentang tindakan apa yang perlu kita lakukan dan yang pelru kita pahami bersama bahwa etika ini dapat diterapkan dalam segala aspek atau sisi kehidupan kita, dengan demikian etika ini dapat dibagi menjadi beberapa bagian sesuai dengan aspek atau sisi kehidupan manusianya.
Ada dua macam etika yang harus kita pahami bersama dalam menentukan baik dan buruknya prilaku manusia :
1.   ETIKA DESKRIPTIF, yaitu etika yang berusaha meneropong secara kritis dan rasional sikap dan prilaku manusia dan apa yang dikejar oleh manusia dalam hidup ini sebagai sesuatu yang bernilai. Etika deskriptif memberikan fakta sebagai dasar untuk mengambil keputusan tentang prilaku atau sikap yang mau diambil.
2.    ETIKA NORMATIF, yaitu etika yang berusaha menetapkan berbagai sikap dan pola prilaku ideal yang seharusnya dimiliki oleh manusia dalam hidup ini sebagai sesuatu yang bernilai. Etika normatif memberi penilaian sekaligus memberi norma sebagai dasar dan kerangka tindakan yang akan diputuskan.

Etika secara umum dapat dibagi menjadi :
1. ETIKA UMUM, berbicara mengenai kondisi-kondisi dasar bagaimana manusia bertindak secara etis, bagaimana manusia mengambil keputusan etis, teori-teori etika dan prinsip-prinsip moral dasar yang menjadi pegangan bagi manusia dalam bertindak serta tolak ukur dalam menilai baik atau buruknya suatu tindakan. Etika umum dapat di analogkan dengan ilmu pengetahuan, yang membahas mengenai pengertian umum dan teori-teori.
2.  ETIKA KHUSUS, merupakan penerapan prinsip-prinsip moral dasar dalam bidang kehidupan yang khusus. Penerapan ini bisa berwujud : Bagaimana saya mengambil keputusan dan bertindak dalam bidang kehidupan dan kegiatan khusus yang saya lakukan, yang didasari oleh cara, teori dan prinsip-prinsip moral dasar. Namun, penerapan itu dapat juga berwujud : Bagaimana saya menilai perilaku saya dan orang lain dalam bidang kegiatan dan kehidupan khusus yang dilatarbelakangi oleh kondisi yang memungkinkan manusia bertindak etis : cara bagaimana manusia mengambil suatu keputusan atau tidanakn, dan teori serta prinsip moral dasar yang ada dibaliknya. Etika khusus dibagi lagi menjadi dua bagian :
a.  Etika individual, yaitu menyangkut kewajiban dan sikap manusia terhadap dirinya sendiri.
b.  Etika sosial, yaitu berbicara mengenai kewajiban, sikap dan pola perilaku manusia sebagai anggota umat manusia.
Perlu diperhatikan bahwa etika individual dan etika sosial tidak dapat dipisahkan satu sama lain dengan tajam, karena kewajiban manusia terhadap diri sendiri dan sebagai anggota umat manusia saling berkaitan. Etika sosial menyangkut hubungan manusia dengan manusia baik secara langsung maupun secara kelembagaan (keluarga, masyarakat, negara), sikap kritis terhadap pandangan-pandangan dunia dan ideologi-ideologi maupun tanggung jawab umat manusia terhadap lingkungan hidup. Dengan demikian luasnya lingkup dari etika sosial, maka etika sosial ini terbagi atau terpecah menjadi banyak bagian atau bidang dan pembahasan bidang yang paling aktual saat ini adalah sebagai berikut :
1.        Sikap terhadap sesama
2.        Etika keluarga
3.        Etika profesi
4.        Etika politik
5.        Etika lingkungan
6.        Etika idiologi
Sistem Penilaian Etika :
1.  Titik berat penilaian etika sebagai suatu ilmu, adalah pada perbuatan baik atau jahat, susila atau tidak susila.
2.  Perbuatan atau kelakuan seseorang yang telah menjadi sifat baginya atau telah mendarah daging, itulah yang disebut akhlak atau budi pekerti. Budi tumbuhnya dalam jiwa, bila telah dilahirkan dalam bentuk perbuatan namanya pekerti. Jadi suatu budi pekerti, pangkal penilaiannya adalah dari dalam jiwa; dari semasih berupa angan-angan, cita-cita, niat hati, sampai ia lahir keluar berupa perbuatan nyata.
3.  Burhanuddin Salam, Drs. menjelaskan bahwa sesuatu perbuatan di nilai pada 3 (tiga) tingkat :
a. Tingkat pertama, semasih belum lahir menjadi perbuatan, jadi masih berupa rencana dalam hati, niat.
b. Tingkat kedua, setelah lahir menjadi perbuatan nyata, yaitu pekerti.
c. Tingkat ketiga, akibat atau hasil perbuatan tersebut, yaitu baik atau buruk.
Dari sistematika di atas, kita bisa melihat bahwa ETIKA PROFESI merupakan bidang etika khusus atau terapan yang merupakan produk dari etika sosial. Kata hati atau niat biasa juga disebut karsa atau kehendak, kemauan. Dan isi dari karsa inilah yang akan direalisasikan oleh perbuatan. Dalam hal merealisasikan ini ada (4 empat) variabel yang terjadi :
a. Tujuan baik, tetapi cara untuk mencapainya yang tidak baik.
b. Tujuannya yang tidak baik, cara mencapainya ; kelihatannya baik.
c. Tujuannya tidak baik, dan cara mencapainya juga tidak baik.
d. Tujuannya baik, dan cara mencapainya juga terlihat baik.

Referensi
Kasanah, Nur dkk. 2013. Profesi Bekerja dan Komunikasi Bisnis. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan


Kamis, 29 Juni 2017

Verb Phrase and Tenses (Present and Past)



1. Verb Phrase
     A verb phrase consists of a main verb alone, or a main verb plus any modal and/or auxiliary verbs. The main verb always comes last in the verb phrase.

Formula: Auxiliary Verb + Main Verb

The verb phrase in English has the following forms:
1. Main Verb


2.  An auxiliary verb “be” and main verb in –ing verb



3. An Auxiliary verb ("have") and a Main verb with past participle



4. An auxiliary verb ("have" + "been") and a main verb in the –ing form



5. A Modal verb (can, could, may, might, must, shall, and etc) and a Main verb



2. Tenses

1. Simple Present Tense
    Simple present tense used to describe habits, unchanging situations, general truths, and fixed arrangements. We use the simple present tense when an action is happening right now.
Formula : (+) S + Verb + O
                     (-) Do/Does + Not + Verb
                     (?) Do/Does + S + Verb ?
Subject
I, You, They, We  : Do
He, She, It             : Does

Example : (+) I work in Japan.
                   (-)  I don’t work in Japan
                   (?) Do I work in Japan?

2. Present Continuous Tense
    The present continuous tense is often called the present progressive tense is the tense that describes the work that is happening today. Is said to be present because of current and said continuous because the work being done. Tense is one of the most commonly used tenses either in conversation or in writing or text.

Formula : (+) S + To Be (Am, Is, Are) + Verb - ing + O
                     (-)  S + To Be + Not + Verb - ing + O
                     (?) To Be + S + Verb - ing + O ?

Function of Present Continuous Tense
1. To indicate an action that is being done at this time / now
2. To show a work that will be done in the near future (plan)
3. To indicate an action that occurs repeatedly

Example : (+) He is writing a letter now
                    (-) He is not writing a letter now
                    (?) Is he writing a letter now?

3. Present Perfect Tense
    The Present Perfect is used to express actions that happened at an indefinite time or that began in the past and continue in the present. This tense is also used when an activity has an effect on the present moment.

Formula : (+) S + Have/Has + Verb3
                     (-)  S + Have/Has + Not + Verb3
                     (?)  Have/Has + S + Verb3 ?

Function of Present Perfect Tense
1. To show the work recently completed / have been completed at the present time. Because just finished, then the effect of the work can still be felt today
2. To describe a work that has been done repeatedly

Example : (+) I have met my perfect partner yet.
      (-) I haven't met my perfect partner yet
      (?) Have I met my perfect partner yet?

4. Present Perfect Continuous
    The present perfect continuous talks about an action that started in the past and continues in the present. Adverb of time : “since” and “for” (since 1996, since Sunday, for a few minutes, for two years).

Formula : (+) S + Have/Has + Been + Verb1-ing
                     (-)  S + Have/Has + Not + Been + Verb1-ing
                     (?) Have/Has + S + Been + Verb1-ing ?

Example : (+) She has been working at that company for three years.
      (-)  She has not been working at that company for three years.
      (?) Has she been working at that company for three years?

5. Simple Past Tense
    We use the Simple past to talk about actions that happened at a specific time in the past. The actions can be short or long. There can be a few actions happening one ofter another.

Formula : (+)  S + Verb2
         (-)   S + Did Not + Verb1
         (?)  Did + S + Verb1

Time Adverbials
yesterday
the other day
just now
the day before yesterday


Function of Simple Past Tense
1. Past actions that are now finished
2. Situation in the past
3. A series of actions in the past

Example : (+)  Cika cooked with her mom this morning
      (-)   Cika didn’t cook with her mom this morning
     (?)   Did Cika cook with her mom this morning?

6. Past Continuous Tense
    This tense is used to describe a job or activity that is going on in the past. Is said to be continuous because the work is being done. And said past because it happened in the past.

Formula : (+) S + To Be (Was/Were) + Verb-ing + O
         (-) S + Was/Were + Not + Verb-ing + O
         (?) Was/Were + S + Verb-ing + O ?

Example : (+) I was playing badminton yesterday
      (-)  I was not playing badminton yesterday
      (?) Was I playing badminton yesterday ?

7. Past Perfect Tense
    We use the Past Perfect tense to emphasize that an action in the past finished before another action in the past started. This tense is also used in third conditional sentences, or to show dissatisfaction with the past.

Formula : (+)  S + Had + Verb3
         (-)   S + Had Not + Verb3
         (?)  Had + S + Verb3

Function of Past Perfect Tense
1. Past actions that are now finished
    The first use of the Past Simple to express actions that happened at a specific time in the past.         The actions can be short or long.
2. Third conditional
    Use the Past Perfect with third conditional sentences.
3. Dissatisfaction with the Past
    We often use the Past Perfect to show our dissatisfaction with the past. Such sentences typically       start with "I wish ..." or "If only ...".

Example : (+) Rino had visited her girlfriend in the hospital
      (-) Rino had not visited her girlfriend in the hospital
      (?) Had Rino visited her girlfriend in the hospital?

8. Past Perfect Continuous Tense
    Past Perfect Continuous is formed with the past perfect tense of the verb to be (had been) plus the present participle (verb with ing). Past Perfect Continuous tense is used to show that something started in the past and continued up until another time in the past.

Formula : (+) S + Had + Been + Verb1-ing
        (-)  S + Had + not + Been + Verb1-ing
        (?) Had + S + Been + Verb1-ing

Function of Past Perfect Continuous Tense
1. For an action that occurred over a period of time in the past
2. For an action which started and finished in the past before  another past action. Here, since or          for is usually used.
3. In reported speech, the present perfect continuous tense becomes past perfect continuous tense

Example : (+)  My baby had been crying since I went to shop.
      (-)   My baby had not been crying since I went to shop.
     (?)   Had My baby been crying since I went to shop ?